-->

Membangun Pribadi Muslim Berprestasi

http://gatotwid.wordpress.com/2008/08/11/membangun-citra-pribadi-muslim-terbaik/

Rasul selalu bahagia dan optimis maka dlm hidupnya hanya 2x sakit,  selalu senyum, pola makan bagus,  daging hanya 1 di setiap makan, tidak lebih.
Harus bahagia.
Rasul: siapa yg ingin bahagia, jgn lupakan ilmu.
Malaikat membentangkan sayap bagi yg menuntut ilmu. Mana lebih utama, melayat atau menuntut ilmu? Bila sudah ada yang mengurus si jenazah, maka 1000 jenazah tdk lbh baik dari 1 majelis ilmu.
Malaikat rahmat tdk mau masuk rumah yg isinya barang curian.
Menyelesaikan luka hati bukan dg akal. Contoh: anak kehilangan kelinci yg mati dan tidak mau sekolah. Kalau kita memberi nasehat ke sang anak bahwa tidak perlu sedih karena bisa beli lagi kelinci yang lain, maka sang anak bisa dipastikan tidak mau luluh hatinya. Tapi kalau kita memberikan “empati” terhadap kesedihannya terlebih dahulu, kemungkinan besar dia akan luluh, dan mau sekolah lagi. Mengobati sakit hati harus dengan hati, bukan dengan akal pikiran.
Dua hal yang harus kita ingat:
1. Ingat kebaikan orang lain
2. Inget kesalahan kita kepada org lain
Dua hal yg harus dilupakan:
1. Kebaikan kita kpd org lain
2. Kesalahan org lain kpd kita
isah:
Rasul memiliki kebiasaan menyuapi seorang tua yahudi buta di sebuah perempatan gang. Tiap haru rasul selalu datang menjumpai orang buta tersebut. Padahal org tua tsb tiap hari mencaci rasulullah. Menjelang ajalnya, rasul menitipkan pekerjaan “menyuap” orang buta tsb kepada Abu Bakar shgg setelah rasul meninggal, Abu Bakar lah yg meneruskan pekerjaan tsb. Pada hari pertama Abu Bakar menyuap, orang buta tsb menolaknya. “Mengapa jadi begini keras adukannya dan kasar caramu menyuap, tidak seperti biasanya aku disuap,” kata orang buta tsb. “Pasti kamu orang lain ya,” ujarnya. “Ya pak, saya Abu Bakar”. Orang buta tsb melanjutkan “Lantas, kemana orang yg biasa menyuapi aku dengan lembut dan adukannya halus itu?”. “Maaf pak, beliau sudah meninggal dunia dan sebelum meninggal dunia beliau berpesan kepada saya untuk menggantikan peran beliau menyuap makan buat bapak”. Orang buta tersebut sungguh kaget sekaligus merasa kehilangan karena selama ini ia sangat senang bila makan disuap olehnya. “Siapa sebenarnya orang yang biasa menyhuap saya itu?”. “Rasul Muhammad SAW…”. “Apa? Muhammad yang sering saya caci maki itu?”. Orang buta tersebut tampak menyesali apa yang ia perbuat dan seketika minta Abu Bakar mengantarnya ke makam rasul.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel